<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>smart_crow&#039;s blog</title>
	<atom:link href="http://dark4stro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dark4stro.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 02:50:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dark4stro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>smart_crow&#039;s blog</title>
		<link>http://dark4stro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dark4stro.wordpress.com/osd.xml" title="smart_crow&#039;s blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dark4stro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>how to be a small astronom!!</title>
		<link>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/30/how-to-be-a-small-astronom/</link>
		<comments>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/30/how-to-be-a-small-astronom/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulqiorra116</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dark4stro.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[pertama mulai dari hal yang kecil yaitu: -belajar senang dengan astronomi lewat mengamati bintang dimalam hari dan hafalkan rasi bintang yang ada dan berpatokanlah dengan peta langit. -dengan cara itu anda akan mulai mengatahui waktu terbit dan terbenam bintang -setelah itu mulai dengan materi yang mudah saya menulis berdasarkan yang saya alami sebdiri &#160; _trims_<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=230&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pertama mulai dari hal yang kecil yaitu:</p>
<p>-belajar senang dengan astronomi lewat mengamati bintang dimalam hari dan hafalkan rasi bintang yang ada dan berpatokanlah dengan peta langit.</p>
<p>-dengan cara itu anda akan mulai mengatahui waktu terbit dan terbenam bintang</p>
<p>-setelah itu mulai dengan materi yang mudah</p>
<p>saya menulis berdasarkan yang saya alami sebdiri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>_trims_</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dark4stro.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dark4stro.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=230&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/30/how-to-be-a-small-astronom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be877e5f3bb9493dc48acce27538bb18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulqiorra116</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Instrumentasi Astronomi Radio 2: Antena</title>
		<link>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-2-antena/</link>
		<comments>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-2-antena/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulqiorra116</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dark4stro.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Antena adalah salah satu elemen penting yang harus ada pada sebuah teleskop radio. Fungsinya adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya. Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, sering dijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=241&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Antena adalah salah satu elemen penting yang harus ada pada sebuah teleskop radio. Fungsinya adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, lalu meradiasikannya. Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyal elektromagnetik dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, sering dijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan penerima) sekaligus. Namun, pada sebuah teleskop radio, antena hanya menjalankan fungsi penerima saja.</p>
<div><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/02/helix-mrt.jpg" alt="Gambar 2. Antena helix yang digunakan pada MRT." width="109" height="162" align="right" /><br />
Gambar 2. Antena helix yang digunakan pada MRT.</div>
<div><span id="more-241"></span></div>
<p>Ada berbagai jenis antena, antara lain monopol, dipol, mikrostrip, parabola, vee, horn, helix, dan loop. Walaupun amat sering dijumpai teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk parabola, ada beberapa jenis antena lainnya yang juga sering digunakan pada sebuah teleskop radio atau interferometer. Misalnya, Mauritius Radio Telescope (MRT) yang menggunakan 1084 buah antena berbentuk helix (gambar 1 dan 2). Contoh lainnya adalah teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn, yang digunakan oleh Arno Penzias dan Robert Woodrow Wilson ketika menemukan <em>Cosmic Microwave Background</em> (CMB) (gambar 3). Pada</p>
<p>artikel ini, yang</p>
<p>g akan disinggung adalah antena berbentuk dipol dan parabola.</p>
<div><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/02/penzias-wilson.jpg" alt="Gambar 3. Teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn. Kredit gambar: Bell Labs" width="247" height="190" /></div>
<p><strong>Karakter Antena</strong><br />
Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu.</p>
<p>Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasi antena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang irisan arah azimuth (pola azimuth).</p>
<p>Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi seperti terlihat pada gambar 5. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol.</p>
<p>Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola (gambar 6a). Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki <em>directivity</em> (gambar 6b). Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut semakin besar (gambar 7a dan 7b).</p>
<p>Dari gambar 4 dan 5, kita dapat melihat bahwa sinyal didistribusikan oleh sebuah antena dipol secara merata ke semua arah pada bidang XY. Oleh karena itu, antena dipol termasuk <em>non-directive</em> antenna. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Pada astronomi radio, antena dipol digunakan pada teleskop radio untuk melakukan pengamatan pada rentang <em>High Frequency</em> (HF). Bentuk data yang dapat diperoleh adalah variabilitas intensitas sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi. Namun, karena antena dipol tidak memiliki directivity pada arah tertentu, teleskop radio elemen tunggal yang menggunakan antena jenis ini tidak dapat digunakan untuk melakukan pencitraan.</p>
<p>Gain (<em>directive gain</em>) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.</p>
<p>Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal (pada gambar 4, searah dengan sumbu z). Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.</p>
<p><strong>Antena Parabola</strong><br />
Antena berbentuk parabola banyak digunakan dalam sistem komunikasi point-to-point, misalnya dalam sistem komunikasi satelit, karena antena parabola termasuk <em>directive antenna</em>. Hal ini dapat dilihat melalui pola radiasinya (gambar 9).</p>
<p>Ada beberapa  hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah <em>Half-power Beamwidth </em>(HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beamwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.</p>
<p>Antena dipol, walaupun tidak termasuk<em> directive antenna</em>, juga memiliki<em> beamwidth</em>. Yang kedua adalah <em>First Null Beamwidth </em>(FNBW), yaitu sudut yang dilingkupi oleh <em>main/major lobe</em> sebuah antena. Kedua besaran tersebut menggambarkan bentuk dari <em>major lobe</em>. Dalam sistem komunikasi satelit, <em>major lobe </em>diharapkan sesempit mungkin. Selain menghindari sinyal melebar ke satelit lain, <em>major lobe </em>yang sempit memberikan gain yang besar jika dibandingkan dengan <em>major lobe</em> yang lebar. Hal yang sama berlaku jika antena parabola digunakan pada sebuah teleskop radio dalam bidang astronomi, dimana <em>beamwidth </em>yang sempit memberikan resolusi spasial yang tinggi. <em>Major lobe </em>juga memberikan gambaran mengenai <em>directivity</em> antena–semakin kecil <em>major lobe</em> sebuah antena, maka semakin tinggi <em>directivity</em> antena tersebut.</p>
<p><em>Minor lobes</em> (<em>side lobes</em> dan <em>back lobes</em>) selalu muncul dalam setiap pola radiasi antena parabola. Minor lobes selalu diharapkan berukuran sekecil mungkin, karena selain mengurangi efisiensi, minor lobes yang besar dapat menyebabkan sinyal melebar ke satelit lain. Dalam kondisi antena sebagai penerima (misalnya pada sebuah teleskop radio), minor lobes memberikan kontribusi dalam menambah noise pada sinyal.</p>
<p>Jenis polarisasi pada antena berbentuk parabola ditentukan oleh polarisasi <em>feedhorn</em>-nya. Pada antena parabola, elemen yang mengubah sinyal elektromagnetik menjadi sinyal listrik (atau sebaliknya) terdapat di dalam <em>feedhorn.</em> Piringan parabola berfungsi untuk mengarahkan radiasi sinyal (antena sebagai peradiasi) atau mengumpulkan dan memfokuskan sinyal yang diterima (antena sebagai penerima).</p>
<p>Sumber-sumber utama:<br />
Antenna Tutorial. AEROCOMM<br />
Radiation Pattern Tutorial. Granite Island Group<br />
N.J. Kolias et. al., Antennas. 2000. CRC Press L.L.C. http://www.engnetbase.com<br />
MRT HOME PAGE. http://icarus.uom.ac.mu/mrt2.html<br />
Hill, J.E., Gain of Directional Antenna. Watkins-Johnson Company</p>
<p>dikutip dari:<a title="Posts by Radial Anwar" href="http://langitselatan.com/author/adi_astro/">Radial Anwar</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dark4stro.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dark4stro.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=241&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-2-antena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be877e5f3bb9493dc48acce27538bb18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulqiorra116</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/02/helix-mrt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 2. Antena helix yang digunakan pada MRT.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/02/penzias-wilson.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 3. Teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn. Kredit gambar: Bell Labs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Instrumentasi Astronomi Radio I: Gambaran Umum</title>
		<link>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-i-gambaran-umum/</link>
		<comments>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-i-gambaran-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulqiorra116</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dark4stro.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita mendengar kata teleskop, maka umumnya interpretasi pertama dalam kepala kita adalah sebuah tabung yang dilengkapi lensa atau cermin, yang digunakan untuk mengamati objek-objek di luar angkasa. Namun perlu diingat (dan disosialisasikan) bahwa optik hanyalah salah satu bagian kecil dari spektrum gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh objek-objek di luar angkasa tersebut. Masih ada jenis-jenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=238&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita mendengar kata teleskop, maka umumnya interpretasi pertama dalam kepala kita adalah sebuah tabung yang dilengkapi lensa atau cermin, yang digunakan untuk mengamati objek-objek di luar angkasa. Namun perlu diingat (dan disosialisasikan) bahwa optik hanyalah salah satu bagian kecil dari spektrum gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh objek-objek di luar angkasa tersebut. Masih ada jenis-jenis gelombang elektromagnetik lainnya, yang tentu saja jika ingin diamati, membutuhkan peralatan yang berbeda dengan teleskop optik.</p>
<p><span id="more-238"></span></p>
<p><a title="radioinst1.jpg" href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2007/11/radioinst1.jpg" target="_blank"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2007/11/radioinst1.jpg" alt="radioinst1.jpg" width="480" height="305" /></a></p>
<p>Untuk pengamatan pada panjang gelombang radio, peralatan yang digunakan disebut teleskop radio. Instrumen ini hampir mirip dengan radar, atau ground segment pada sistem komunikasi satelit. Perbedaannya adalah, teleskop radio hanya merupakan sistem penerima, tidak meliputi sistem pemancar sinyal. Dan sinyal yang diterima adalah sinyal analog, bukan sinyal digital.</p>
<p>Pada dasarnya, pengamatan pada panjang gelombang radio adalah untuk mengukur intensitas sinyal yang dipancarkan oleh suatu objek pada satu panjang gelombang atau frekuensi tertentu. Satuan yang biasa digunakan adalah Jansky (Jy). 1 Jansky setara dengan 10-26 watt m-2 Hz-1. Ini untuk memudahkan dalam pengukuran, karena sinyal radio yang dipancarkan oleh objek-objek astronomi sangat lemah.</p>
<p>Pada umumnya, sebuah teleskop radio memiliki komponen-komponen berikut ini:<br />
1.    Antena<br />
2.    <em>Amplifier</em><br />
3.    <em>Band-pass Filter</em><br />
4.   <em> Mixer</em><br />
5.    <em>Detector</em></p>
<p>Komponen-komponen diatas diurut berdasarkan urutan yang umum ditemui pada blok diagram sebuah teleskop radio. Komponen-komponen selain antena biasanya digabung menjadi satu, disebut sebagai receiver. Ada komponen-komponen yang posisi urutannya tidak mungkin diubah, misalnya antena dan detector. Namun komponen lainnya boleh untuk diubah urutannya, misalnya menempatkan band-pass filter lebih dulu sebelum amplifier. Perubahan urutan posisi komponen tersebut tentu saja menimbulkan efek pada transmisi sinyal yang dideteksi dari antena menuju detector. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui peranan dari masing-masing komponen tersebut. Pada artikel ini, hanya akan diberikan penjelasan secara umum mengenai masing-masing komponen. Penjelasan yang lebih mendalam akan diberikan pada artikel-artikel selanjutnya.</p>
<p><strong>Antena</strong><br />
Antena berfungsi untuk mengumpulkan sinyal radio, dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Umumnya antena yang digunakan pada teleskop radio berbentuk dipol atau parabola. Namun tidak jarang antena yang digunakan berbentuk yagi, yaitu antena yang biasa digunakan untuk menerima siaran televisi terestrial. Pemilihan jenis antena didasarkan pada panjang gelombang atau frekuensi yang ingin diamati. Antena dipol biasanya digunakan untuk pengamatan pada daerah high frequency (HF) dan very high frequency (VHF). Antenna yagi biasanya digunakan untuk pengamatan pada sebagian kecil daerah ultra high frequency (UHF), sedikit diatas VHF. Sedangkan untuk pengamatan pada sebagian besar daerah UHF dan frekuensi yang lebih tinggi lagi, umumnya menggunakan antena berbentuk parabola.</p>
<p>Seperti yang tersirat pada satuan pengukuran intensitas sinyal (watt m-2 Hz-1), luas permukaan antena memberikan pengaruh yang signifikan pada intensitas sinyal yang diterima.</p>
<p><strong>Amplifier</strong><br />
Umumnya antena sebuah teleskop radio ditempatkan agak jauh dari work station dimana receiver berada. Sinyal dari antena ditransmisikan ke receiver menggunakan kabel coaxial atau waveguide. Pada saluran transmisi ini terjadi pengurangan daya sinyal yang disebabkan oleh hambatan (resistance) saluran transmisi itu sendiri. Dan mengingat daya yang diterima antena dari objek-objek astronomi amat kecil, maka amat penting untuk menguatkan sinyal yang akan ditransmisikan, agar dapat dideteksi oleh receiver. Oleh karena itu, umumnya setelah antena ditempatkan sebuah amplifier, yang disebut pre-amplifier atau pre-amp. Menempatkan amplifier tambahan pada receiver juga umum dilakukan, untuk memperjelas sinyal yang sampai di receiver, sebelum diproses lebih lanjut.</p>
<p><strong>Band-pass Filter</strong><br />
Gelombang radio bukanlah ranah milik dunia astronomi saja, melainkan juga digunakan dalam sistem komunikasi. Dunia astronomi harus berkompromi dengan kepentingan publik dalam memanfaatkan gelombang radio, setidaknya hingga frekuensi belasan gigahertz. Oleh karena itu, daerah frekuensi pengamatan pada astronomi radio haruslah dipilih dengan baik agar sinyal yang ingin diamati tidak diinterferensi oleh sinyal komunikasi, kecuali jika lokasi pengamatan berada sangat jauh dari peradaban, dan daerah frekuensi pengamatan berada diluar rentang frekuensi komunikasi satelit. <em>International Telecommunication Union </em>(ITU) telah menetapkan rentang-rentang (<em>bandwidth</em>) frekuensi yang dijamin untuk kepentingan dunia astronomi. Dan rentang-rentang ini bukanlah rentang yang lebar. Sehingga bandwidth frekuensi pada pengamatan astronomi radio haruslah dibatasi agar tidak diinterferensi. Disinilah terletak pentingnya komponen band-pass filter, yaitu untuk membatasi bandwidth frekuensi yang diamati.</p>
<p>Disisi lain, <em>bandwidth </em>yang sangat sempit akan berimbas pada lemahnya intensitas sinyal yang dideteksi (lihat kembali satuan intensitas diatas). Selain itu membuat filter untuk bandwidth yang amat sempit sangat sulit, apalagi jika filter tersebut dirancang berdasarkan ketersediaan komponen dasar (misalnya resistor, kapasitor, transistor, dll) yang dijual di pasaran. Oleh karena itu, umumnya filter dibuat cukup lebar, tetapi masih berada diluar daerah frekuensi yang digunakan untuk sistem komunikasi.</p>
<p>Walaupun begitu, filter dengan bandwidth yang sangat kecil tetap ada kegunaannya, yaitu untuk melakukan pengamatan spektrum radio (spektroskopi). Teleskop radio yang digunakan untuk keperluan ini disebut Radio Spectograph. Tentunya <em>bandwidth</em> yang amat sempit harus dikompensasi oleh komponen lainnya, misalnya amplifier yang memiliki <em>noise</em> yang sangat kecil sehingga amplifikasi yang besar tidak disertai dengan <em>noise </em>yang juga besar, dan<em> detector</em> yang sangat sensitif.</p>
<p>Sebagai informasi tambahan, alokasi frekuensi untuk pengamatan pada astronomi radio yang telah dijamin oleh ITU dapat dibaca pada buku CRAF <em>Handbook for Radio Astronomy</em>, yang diterbitkan oleh <em>European Science Foundation.</em></p>
<p><strong>Mixer</strong><br />
Pengamatan dalam astronomi radio dapat dilakukan pada frekuensi sekitar 10 MHz hingga beberapa ratus GHz. Sinyal dengan frekuensi yang amat tinggi tersebut sulit untuk dianalisis. Oleh karena itu, biasanya sinyal yang diterima diubah frekuensinya menjadi frekuensi yang lebih rendah (mix-down) dengan menggunakan mixer. Perubahan frekuensi tersebut tidak mengubah parameter-parameter sinyal lainnya sehingga tetap merepresentasikan kondisi sesungguhnya.</p>
<p><em><strong>Detector</strong></em><br />
Di dalam <em>receiver</em>, sinyal biasanya direpresentasikan dalam bentuk tegangan (voltage). Namun yang sebenarnya ingin diukur oleh astronom adalah intensitas daya atau rapat daya. Oleh karena itu, pada teleskop radio <em>detector </em>yang biasa digunakan adalah jenis <em>Square Law Detector</em>, karena dapat secara langsung memberikan gambaran mengenai daya atau rapat daya sinyal berdasarkan tegangan yang dibaca pada detector tersebut. Keuntungan lain menggunakan detector jenis ini adalah bahwa detector jenis ini bekerja dengan baik justru untuk mendeteksi sinyal yang kecil, sekitar -20 hingga -60 dBm. Sehingga amplifikasi sinyal pada amplifier tidak harus sangat besar. Contoh <em>detector</em> jenis ini adalah dioda Schottky.</p>
<p>Komponen lain yang juga umum ditemui pada sebuah teleskop radio adalah Integrator, yaitu komponen yang berfungsi mengakumulasi sinyal yang direkam dalam suatu interval waktu. Komponen ini amat berguna dalam pengamatan untuk mendeteksi objek-objek yang sangat redup pada panjang gelombang radio.</p>
<p>Data hasil pengamatan tentu perlu disimpan. Saat ini umumnya komputer digunakan sebagai recorder, karena memudahkan proses analisis data. Namun pita magnetik juga masih digunakan, terutama dikalangan astronom-astronom amatir. Umumnya pita magnetik digunakan untuk merekam data variabilitas intensitas sinyal radio dari sebuah objek astronomi.</p>
<p>________________<br />
<em><strong>Sumber referensi :</strong></em><br />
<em>Undergraduate Research Educational Initiative (UREI), HAYSTACK, MIT.<br />
Ian Purdie’s Amateur Radio Tutorial Pages.<br />
Prof. Dale E. Gary. Radio Astronomy Lecture. NJIT.<br />
Field Antenna Handbook, MCRP 6-22D. U.S. Marine Cor</em>ps.</p>
<p>dikutip dari:<a title="Posts by Radial Anwar" href="http://langitselatan.com/author/adi_astro/">Radial Anwar</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dark4stro.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dark4stro.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=238&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/instrumentasi-astronomi-radio-i-gambaran-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be877e5f3bb9493dc48acce27538bb18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulqiorra116</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2007/11/radioinst1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">radioinst1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Astronom Radio? Kenapa Tidak?</title>
		<link>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/astronom-radio-kenapa-tidak/</link>
		<comments>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/astronom-radio-kenapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulqiorra116</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Astronomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dark4stro.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah di Astronomi? Enak dong, bisa liat-liat bintang pake teleskop. Selain pertanyaan mengenai kemampuan meramal atau yang berkaitan dengan astrologi, mahasiswa/i yang menempuh jalur pendidikan di bidang astronomi pasti sering menerima komentar ini. Komentar yang membuat mahasiswa/i di jurusan astronomi merasa sangat beruntung, bisa mendapatkan pengalaman yang belum tentu dapat diperoleh oleh masyarakat pada umumnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=233&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kuliah di Astronomi? Enak dong, bisa liat-liat bintang pake teleskop.</p>
<p>Selain pertanyaan mengenai kemampuan meramal atau yang berkaitan dengan astrologi, mahasiswa/i yang menempuh jalur pendidikan di bidang astronomi pasti sering menerima komentar ini. Komentar yang membuat mahasiswa/i di jurusan astronomi merasa sangat beruntung, bisa mendapatkan pengalaman yang belum tentu dapat diperoleh oleh masyarakat pada umumnya, yaitu mengamati bintang atau objek luar angkasa lainnya dengan menggunakan teleskop.</p>
<p>Namun ada suatu kesimpulan yang dapat tarik dari komentar tersebut. Masyarakat pada umumnya masih beranggapan bahwa astronomi terbatas hanya pada <em>optical astronomy</em>, bahwa teleskop adalah suatu instrumen yang pasti memiliki tabung dan lensa atau cermin. Ingin bukti? Lakukan survey. Misalnya ajukan 1 buah pertanyaan pada 100 responden, tentunya masyarakat umum yang tidak berkecimpung dalam bidang astronomi. Pertanyaannya adalah, “Apakah kawat jemuran dirumah anda bisa dijadikan teleskop?”. Menurut perkiraan anda, apakah akan ada lebih dari 20 responden yang menjawab “bisa”?</p>
<p><span id="more-233"></span></p>
<p>Patut disayangkan, bahwa Indonesia sebagai negara yang dianggap sebagai pemimpin dalam pengembangan astronomi di Asia Tenggara, juga masih mengalami fenomena tersebut. 84 tahun ternyata belum cukup untuk memperkenalkan bidang astronomi kepada masyarakat Indonesia secara utuh. Yang patut disayangkan, kita sebenarnya mampu untuk merambah panjang gelombang selain optik. Paling tidak, untuk panjang gelombang radio. Miris rasanya ketika mengetahui bahwa banyak astronom amatir di Amerika atau Australia yang telah mampu mempublikasikan data radio yang mereka akusisi sendiri, dengan instrumen yang juga mereka buat sendiri. Mengapa hal ini tidak terjadi di Indonesia? Mari kita sedikit berspekulasi dengan jawaban yang mungkin muncul dari pertanyaan tadi.</p>
<p>“Astronomi radio belum disosialisasikan dengan baik pada masyarakat umum.”. Well, mari kita hindari perdebatan atas jawaban ini. Berterimakasihlah pada teman-teman yang telah membuat website ini. Semoga website ini akan menjadi salah satu solusi atas jawaban tersebut. Jawaban lainnya?</p>
<p>“Kita tidak punya instrumen untuk dapat mempelajari bidang ini dengan baik karena harganya sangat mahal.”. Atau jawaban lain lagi,”Kami tidak memiliki fondasi astrofisika yang memadai untuk terjun ke bidang ini. Kalau astronomi optik kan enak, tinggal liat langit, dapat deh kesenangannya. Atau kalo ada duit sedikit, bisa beli teleskop kecil.”. Nah, yang ini perlu dibahas. Jangan sampai hanya karena alasan-alasan ini, astronomi radio seakan-akan menjadi hak eksklusif bagi astronom profesional, dan tidak memberi ruang pada rekan-rekan astronom amatir.</p>
<p>Keberadaan instrumen memang merupakan masalah yang cukup signifikan dalam pengembangan astronomi radio. Untuk memiliki seperangkat teleskop radio, dibutuhkan biaya jutaan, bahkan milyaran. Apakah memang sebesar itu harganya? YA, untuk teleskop radio yang akan digunakan dalam penelitian <em>scientific</em>. Tapi bukan berarti semua kesenangan tersebut hanya menjadi milik mereka yang kaya, atau yang berhasil mendapatkan dana riset yang besar.</p>
<p>Jika pada astronomi optik kita bisa mendapatkan kegembiraan hanya dengan menikmati indahnya langit malam hari yang dihiasi bulan dan bintang-bintang, maka di astronomi radio-pun ada kesenangan tersendiri, misalnya ketika dapat mendengarkan suara dari matahari atau jupiter. Terlebih lagi apabila instrumen yang kita gunakan untuk mendengarkan suara dari matahari dan jupiter tersebut adalah hasil rakitan atau modifikasi yang kita lakukan sendiri. Dan untuk mendapatkan semua kesenangan tersebut, tidak dibutuhkan biaya yang sangat mahal.</p>
<p>Cukup banyak astronom radio amatir di Amerika dan Australia yang sebenarnya adalah praktisi radio komunikasi amatir. Mereka adalah orang-orang yang gemar dengan elektronika praktis dalam <em>Radio Frequency</em> (RF). Dan karena mengetahui sedikit pengetahuan tentang astronomi radio, mereka menjadi tertarik untuk mencoba memodifikasi perangkat komunikasi mereka menjadi alat untuk mendeteksi sinyal radio dari luar angkasa. Apakah artinya mereka sangat ahli di bidang elektronik? Ternyata tidak! Mereka ahli dalam membuat jaringan, membuat komunitas, yang di dalamnya, mereka saling berbagi, saling melengkapi pengetahuan mereka satu dengan lainnya. Ketika tersandung pada satu masalah, mereka tidak sungkan untuk bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih ahli dalam masalah tersebut. Mereka memiliki kesadaran untuk berpikir, belajar, dan berbuat.</p>
<p>Salah seorang astronom radio amatir yang cukup terkenal adalah Thomas Ashcraft. Walaupun bukan seorang yang sangat ahli di bidang astrofisika maupun elektronika praktis, ia berhasil mempublikasikan data radio yang sangat mengagumkan, yaitu data audio dari profil <em>solar outburst</em> tipe II hingga tipe V. Padahal ia (dengan sangat rendah hati) mengakui bahwa peralatannya sangat sederhana, berupa penerima radio VHF <em>low band</em> yang dihubungkan dengan antena dipol setengah lamda. Ia hanya merasa beruntung bahwa lokasinya jauh dari pusat kota (di New Mexico), sehingga dapat melakukan pengamatan radio yang cukup bebas dari interferensi sinyal radio komunikasi. Ketekunannyalah yang patut dipuji. Ia menjadi contoh bahwa seorang astronom amatir juga dapat berkontribusi, tidak kalah dengan astronom profesional.</p>
<p>Sekarang kita masuk pada beberapa hal praktis, yang mungkin dapat dilakukan  untuk memulai karir sebagai radio astronomer <img src="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p>Anda memiliki radio CB? Atau memiliki teman yang punya radio CB? Pinjam  peralatannya <img src="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /> . Pastikan bahwa peralatan radio tersebut mampu melakukan deteksi gelombang radio untuk modulasi amplitudo (AM) dalam rentang sekitar 20 hingga 45 MHz. Sebenarnya detektor FM (modulasi frekuensi) juga dapat digunakan, namun detektor jenis ini memiliki perangkat limiter yang akan memotong sinyal yang simpangannya melewati batas limiter tersebut. Anda akan kehilangan puncak-puncak sinyal yang berharga. Dengan peralatan tersebut, lakukan scanning sepanjang rentang frekuensi yang dicakupnya. Jika dalam proses scanning tersebut anda menemukan suara noise yang intensitasnya lebih tinggi dibandingkan intensitas noise rata-rata yang dihasilkan instrumen anda, dan tidak ada suara orang yang berbicara, artinya anda sedang mendengarkan sinyal dari Jupiter! Namun perlu diingat, ada beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas sinyal radio dari Jupiter, sehingga Jupiter tidak selalu “ON AIR”. Untuk hal ini, ketekunanlah yang dibutuhka <img src="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p>Cara lainnya adalah dengan mencoba sendiri membuat teleskop radio sederhana. Untuk radio teleskop low frekuensi dengan menggunakan antena dipol, tidak terlalu menghabiskan biaya. Dan cukup banyak desain teleskop radio seperti ini yang dipublikasikan di internet, sehingga dapat kita tiru. Misalnya teleskop radio 30 MHz yang didesain oleh Ian C. Purdie, yang sebenarnya adalah seorang praktisi elektronika RF. Yang perlu diingat dalam mendesain teleskop radio low frekuensi untuk mendeteksi satu frekuensi tertentu, adalah kondisi dari frekuensi yang ingin diamati itu sendiri. Pastikan tidak ada interferensi pada pusat frekuensi yang diamati, dan beberapa ratus KHz disekitarnya. Dan usahakan untuk membuat filter dengan bandwidth se-sempit mungkin. Untuk memudahkan, simak contoh berikut.</p>
<p>Misalkan anda membuat teleskop radio pada 30 MHz, dengan bandwidth 1 MHz. Artinya, teleskop radio anda akan mendeteksi sinyal dari 29,5 MHz hingga 30,5 MHz. Seandainya ada radio komunikasi amatir yang aktif pada frekuensi 29,75 MHz, bersamaan dengan anda melakukan pengamatan Jupiter, maka anda dapat saja berasumsi bahwa di Jupiter ada alien yang bisa berbicara dalam bahasa Indonesia <img src="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" alt=":P" /></p>
<p>Memang instrumentasi pada astronomi radio yang mencakup pengetahuan elektronika RF membuat bidang ini menjadi sedikit lebih kompleks. Namun disinilah sebenarnya terdapat kesempatan untuk membuka kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu. Bukan hanya astronom dan engineer elektronika, seseorang yang gemar dengan komputer juga dapat berpartisipasi. Misalnya ketika kita mampu melakukan deteksi dengan resolusi spasial yang tinggi, ahli komputer dapat berkontribusi dalam hal <em>image processing</em>. Oleh karena itu, seandainya pihak-pihak terkait mau saling bekerja sama, pengembangan astronomi radio di Indonesia adalah suatu hal yang sangat mungkin. <em>Possible and doable</em>!</p>
<p>Juga perlu dicamkan, tidak perlu langsung merancang proyek yang ambisius, karena jika tersandung dengan masalah-masalah seperti SDM dan dana, maka besar kemungkinan proyek tersebut tidak akan pernah berjalan. Anda tidak akan pernah maju. Mulailah dari yang sederhana. Sekali lagi, possible and doable. Seorang dosen dari program studi astronomi ITB yang berinisial Pak Hakim <img src="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /> pernah  berkata, <em>“Think big, start small.”.</em></p>
<p>Sebagai penutup, ada satu fakta yang perlu diingat. Pada awalnya Karl Jansky juga bukan seorang astronom, melainkan seorang engineer. Begitu juga Grote Reber. Artinya, bukan hanya seseorang yang sudah belajar astrofisika, mengerti tentang emisi synchrotron dll, dapat me</p>
<p>njadi radio astronomer. Anda juga bisa!</p>
<p>dikutip dari:<a title="Posts by Radial Anwar" href="http://langitselatan.com/author/adi_astro/">Radial Anwar</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dark4stro.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dark4stro.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dark4stro.wordpress.com&amp;blog=8955632&amp;post=233&amp;subd=dark4stro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dark4stro.wordpress.com/2009/11/02/astronom-radio-kenapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be877e5f3bb9493dc48acce27538bb18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulqiorra116</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
